wkcols.com – Perdebatan besar dalam economics modern sering berputar pada dua kata kunci: efisiensi serta keadilan. Namun, penelitian akademik kerap menyorot salah satunya secara timpang. Banyak studi fokus mengukur seberapa optimal pasar bergerak, sambil memberi porsi kecil bagi distribusi manfaat antar kelompok sosial. Di sini muncul pertanyaan penting: bagaimana framing penelitian economics ikut membentuk cara kita memandang kebijakan publik?
Berita terbaru tentang upaya mengukur framing efisiensi dan equity pada penelitian economics membuka jendela refleksi. Bukan hanya soal hasil penelitian, namun cara peneliti memilih istilah, metrik, hingga narasi teoretis. Sebagai pembaca, pembuat kebijakan, bahkan warga biasa, kita patut lebih peka. Sebab, cara ilmu economics membingkai masalah sering berpengaruh langsung pada keputusan fiskal, regulasi pasar, sampai program bantuan sosial.
Mengapa Framing Penting untuk Ilmu Economics
Economics kerap digambarkan sebagai ilmu netral berbasis angka. Padahal, setiap model lahir melalui pilihan asumsi, perspektif, dan prioritas nilai. Framing efisiensi biasanya menyoroti seberapa besar output tercipta dengan sumber daya terbatas. Sementara itu, framing keadilan menelaah siapa saja menikmati output tersebut. Ketika riset terlalu berat ke sisi efisiensi, persoalan ketimpangan mudah terpinggirkan. Keduanya seharusnya tidak saling meniadakan.
Dalam praktik, banyak paper economics menilai keberhasilan kebijakan lewat indikator seperti pertumbuhan PDB, surplus konsumen, atau produktivitas. Indikator tersebut penting, tetapi tidak menjawab pertanyaan: kelompok mana paling diuntungkan? Apakah golongan rentan ikut terangkat atau malah tertinggal lebih jauh? Dengan kata lain, metrik efisiensi sering dominan, sedangkan ukuran keadilan diposisikan sekadar pelengkap, bukan pilar utama evaluasi kebijakan.
Dari sudut pandang pribadi, kecenderungan ini mencerminkan bias lama dalam tradisi economics arus utama. Ilmuwan terdorong mengejar hasil yang mudah diukur, padahal dimensi keadilan bersifat lebih kompleks. Namun kompleksitas bukan alasan mengabaikan isu distribusi. Justru di era kesenjangan melebar, kita butuh penelitian economics yang berani menggabungkan dua lensa: seberapa besar kue ekonomi tumbuh, serta seberapa adil kue tersebut terbagi.
Cara Peneliti Mengukur Efisiensi dan Keadilan
Upaya mengukur framing efisiensi dan equity di riset economics biasanya memakai pendekatan analisis teks skala besar. Abstrak, judul, hingga isi artikel dipindai menggunakan teknik pemrosesan bahasa alami. Peneliti mencari kata kunci tertentu, misalnya istilah terkait produktivitas, biaya, surplus, lalu membandingkan dengan istilah berhubungan pemerataan, distribusi, atau ketimpangan. Pola kemunculan kata membentuk gambaran fokus riset sepanjang waktu.
Metode seperti ini punya kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan muncul melalui kemampuan memetakan ribuan artikel economics secara serentak untuk melihat tren jangka panjang. Kita bisa tahu, misalnya, apakah sejak krisis keuangan global terjadi peningkatan riset tentang ketidaksetaraan. Kelemahannya, kata kunci tidak selalu mencerminkan substansi. Sebuah paper bisa membahas keadilan secara mendalam tanpa memakai istilah eksplisit tertentu, sehingga luput tertangkap algoritma.
Meski begitu, pendekatan kuantitatif terhadap teks tetap bermanfaat sebagai cermin kasar. Dari sana, komunitas economics dapat menilai seberapa seimbang perhatian terhadap efisiensi serta keadilan. Menurut saya, langkah berikutnya perlu menggabungkan pembacaan otomatis dengan telaah kualitatif. Kurator atau tim ahli bisa meninjau sampel paper secara mendalam, menilai bagaimana argumen disusun, bukan sekadar menghitung frekuensi kata kunci. Kombinasi dua pendekatan memberi gambaran lebih utuh.
Dampak Framing bagi Kebijakan Publik
Pertanyaan besar selanjutnya: apa konsekuensi framing economics terhadap kebijakan publik? Ketika laporan penelitian hanya menonjolkan efisiensi, politisi cenderung mendorong deregulasi, pemotongan pajak, atau pengurangan subsidi dengan alasan peningkatan output agregat. Manfaat jangka pendek mungkin terasa, namun efek jangka panjang pada kesenjangan kerap diabaikan. Sebaliknya, jika penelitian menyeimbangkan narasi efisiensi dan keadilan, pembuat kebijakan lebih terdorong merancang instrumen kompensasi, seperti pajak progresif atau transfer tunai terarah.

